|
Saat ini, bangsa kita masih dihadapkan pada permasalahan kronis, yaitu terjadinya split personality, suatu keadaan di mana tidak adanya integrasi antara otak dan hati, dan tidak adanya satu kata dengan perbuatan. Krisis ekonomi yang berkepanjangan, krisis kepemimpinan, dan krisis moral masih saja menghinggapi sebagian besar bangsa kita. Buta hati juga terjadi di mana-mana. Barangkali, ini merupakan akibat dari bentukan karakter dan kualitas SDM yang hanya mengandalkan pada berbagai Quotient (kecerdasan fisik, intelegensi, emosi, dan spiritual), namun mengabaikan fungsi ”kesadaran, keikhlasan, dan rasa syukur.”
Dulu, orang memang bangga dengan kecerdasan fisik, lalu di era 1980-an, orang bangga dengan kecerdasan intelektual, dan kebanggaan terhadap kecerdasan ini terus berkembang. Kini, di mana-mana orang sedang mengagungkan kecerdasan baru, yaitu kecerdasan emosi dan spiritual,
namun parameter keberhasilannya masih dipertanyakan. Kalau bicara kecerdasan dari berbagai disiplin ilmu, rasanya bangsa kita sudah tidak perlu diragukan lagi. Yang belum dimiliki oleh sebagian besar bangsa kita adalah, rasa syukur dan kesadaran akan kehidupan yang bermakna, kesadaran untuk memiliki jiwa yang tenang, ikhlas dan berakhlak mulia. Sebaliknya, kesadaran saja belumlah cukup, jadi harus tetap diimbangi dengan kecerdasan ilmu di berbagai bidang. Biarpun sudah banyak ilmu yang dimiliki oleh bangsa kita, tetapi masih sangat sedikit orang yang mau bersyukur dan mengamalkannya. Kecerdasan yang ada lebih banyak hanya mengisi pikiran, tetapi tidak membuat tenteram terhadap perasaan hati dan jiwanya. Akibatnya, masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan pun kian hari terus meningkat. Kita sangat prihatin dengan kondisi di negeri yang sangat kita cintai, sebuah negeri yang rakyatnya dikenal religius, tetapi ironisnya menjadi salah satu negeri yang terkorup di dunia. Banyaknya orang yang serakah, menjadikan Tuhan sering menyapa dan menegur bangsa kita dengan menurunkan berbagai peristiwa kecil maupun besar, tiada lain untuk menyadarkan bangsa kita agar menjadi orang yang bertakwa. Sayangnya, walaupun sudah disapa dengan berbagai musibah dan bencana, ternyata bangsa kita belum mau sadar juga. Sesungguhnya alam tidak pernah kejam, namun kitalah yang selama ini sangat kejam terhadap alam. Jika alam bergejolak dan marah, ternyata manusia tidak bisa berbuat banyak. Apa yang telah kita bangun dengan susah payah untuk menumbuhkan rasa aman dan nyaman, akhirnya sia-sia lenyap begitu saja. Mengapa tingkat kesadaran bangsa kita yang agamis ini masih sangat rendah? Karena ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa hanya dijadikan sebagai topeng dan masih terbatas pada slogan semata. Padahal orang yang bertakwa seharusnya di samping melaksanakan perintah Tuhan Yang Maha Kuasa dan menjauhi larangan-Nya, ia juga tidak akan menggadaikan ketakwaannya dengan urusan duniawi yang menggoda hati dan menyilaukan pandangan mata. Seharusnya, nilai-nilai ketakwaannya di samping dapat dirasakan oleh dirinya sendiri, juga dapat dinikmati oleh orang lain. Harus diingat bahwa apa pun bentuknya, yang namanya bencana akan selalu menyisakan penyesalan dan duka cita. Perlu juga disadari bahwa alam sebagai makhluk Tuhan sebenarnya tidak pernah diam. Ia sesungguhnya mendengar, ia juga melihat, dan ia menjadi sensitif ketika melihat manusia sebagai penghuninya, ternyata semakin hari semakin sombong. Padahal alam telah memberikan kepada kita berbagai kemudahan dan kesenangan, namun manusia selalu saja lupa untuk ”bersyukur.” Dalam menghadapi kesombongan manusia itulah, alam punya cara tersendiri untuk menegur dan mengelabuhinya. Cara itu biasanya dimainkan pada saat umat manusia dalam posisi lengah. Itulah bencana. Lakukan Revolusi Akhlak |